Aku masih mengingat air mata itu. Air mata yang mungalir lembut di ujung matamu. Air mata diammu. Terlalu bodohnya aku yang membuat tangismu pecah. Aku tahu sayang, kamu tak bermaksud untuk menyakitiku, justru aku yang menyakiti hatiku sendiri. Sejujurnya aku lelah dengan keadaan ini. Keadaan yang mulai mencengkeram hatiku. Aku merasa dipermainkan walau kamu tak pernah punya niat untuk melakukan itu. Tapi apa pedulimu ? perasaanmu tak sebesar perasaanku. Inginmu tak seperti inginku. Itu yang membuatmu merasa semua baik – baik saja tapi sebenarnya semua tak baik – baik saja sayang. Aku selalu mengempaskan nafasku dengan kasar, selalu membasahi bantalku dengan tangisku.
Cintaku terkatung – katung tanpa kejelasan dan jalan yang jelas. Suatu waktu aku menyesal, mengapa kemarin kamu menerangi gelapku ? mengapa kamu menunjukkan jalan untuk hatiku saat aku tersesat tak tahu arah ? dan diwaktu yang sama aku bersyukur, bersyukur akan kehadiranmu. Hari – hariku mulai berubah, aku mulai bisa membawa diriku ke jalan yang tepat, aku mulai bisa melupakan mereka yang pernah menyakitiku dan kamu mulai merubah hatiku.
Dan disaat kamu mampu merubah hatiku, apakah kamu akan pergi ? jangan pergi, tetaplah disini, tetaplah tersenyum untukku, tetaplah mengusap lembut rambutku.

0 comments:
Post a Comment