Perasaan itu perlahan – lahan
memenuhi setiap sudut hati. Dan sosokmu tak henti – hentinya melangkah bahkan
berlari di otakku. Apakah aku sanggup menjalani babak baru ini ? babak yang
memaksaku berhenti dan berharap lebih. Jika memang cinta itu tak harus memiliki
, mungkin aku menjadi orang yang kesekian kalinya membantahnya. Egois memang
pemikiranku , begitu juga dengan perasaanku. Lalu salahkah aku jika masih tetap
bertahan menunggu setiap hembusan nafasmu disampingku walau kau hadir bukan
sebagai milikku ?
Aku memang salah , membiarkan
semua ini berlanjut sejauh ini hingga kau memutuskan untuk mengatakan bahwa kau
tak ingin rasa kasihmu sama dengan rasa kasihku. Aku masih ingat saat kau masih
tersenyum dengan manisnya. Aku suka memandang lesung pipimu yang hanya sebelah
walau kadang itu yang kujadikan alasan
untuk menertawakanmu. Dan seketika itu kau mengeluh dan pura – pura berpaling.
tapi mengapa kamu masih suka membelai wajahku dan mengusap rambutku saat aku
terlelap ? aku menyadari itu sayang , tapi aku hanya diam dan pura – pura
terlelap tidur karena aku tahu aku tak akan merasakan itu saat aku bangun. Aku
suka setiap kata yang kamu lontarkan setelah aku berbicara panjang lebar.
Kadang aku tersenyum kecil mengingat betapa lucunya dirimu yang hanya
berkomentar ‘iya’ atau ‘oh’ setelah aku bercerita. Aku suka kebersamaan kita ,
saat kamu tertawa , saat kamu memeluk erat tubuh mungilku. Aku ingin waktu berhenti saat itu agar aku
bisa merasakan hangat dan harum tubuhmu. Aku tak ingin jarum jam berdetak walau
hanya sedetik , karena saat itu aku akan menyadari bahwa kamu bukan sepenuhnya
milikku. Mungkin sampai kapanpun aku tak akan bisa memilikimu. Prinsipmu
menghalangiku untuk lebih menaruh harapan padamu. Prinsip yang benar – benar
harus kamu jalani dan prinsip yang harus benar – benar kupatuhi.
Namun , tahukah kamu ? aku rindu
akan kehadiran sosokmu , senyummu , tawamu juga usapan lembut di rambutku.

0 comments:
Post a Comment