Disaat aku mulai rapuh, sudikah kamu memelukku lagi ? Disaat aku tejatuh, apakah kamu mau mengulurkan tangan lembutmu untuk membantuku bangun ? Disaat aku mulai merasa tidak berguna lagi, apakah kamu mau merangkul pundakku dan mengatakan 'aku disini untukmu' ?. Mungkin bukan hanya kehidupan cintaku yang tak ada cahayanya. Tapi juga hidupku yang nyata. Kelam. Tanpa arah dan tujuan.
Memang. Hidup itu harus ada yang pergi dan juga harus ada yang datang. Dan itu pasti. Tapi mengapa tuhan menakdirkan seseorang pergi ketika kita merasa amat sangat menyayanginya ? mengapa tuhan membiarkan kita mengeluh sia – sia karena kepergian ? tidak adil memang. Tapi semua itu tak akan bisa terbantahkan dan tak akan pernah bisa diurungkan. Hidup ini tak semudah mengaturnya hanya dengan kantung ajaib doraemon atau mungkin dengan tongkat sihir yang kamu beli dengan harga ribuan dolar di toko sihir. Kita hanya artis kawakan.
Aku sudah pernah merasakan ini sebelumnya. Mendengar berkali – kali umpatan di pagi hari yang memaksaku bangun dan berharap semua yang terjadi adalah sebuah mimipi buruk yang menakutkan. Ketika aku berusaha mencubit lengan tanganku aku pasti akan terbangun. Tapi ternyata tidak, semua ini nyata. Pertengkaran hebat mungkin sudah menjadi kegiatan rutin. Kemarin lusa, kemarin, hari ini dan mungkin esok. Aku hanya bisa diam menahan amarah. Ada hasratku untuk menghentikan ini semua. Tapi apalah aku ? aku hanya anak ingusan yang hanya bisa menangis didalam kamar dan membiarkan ibuku pergi dengan mata yang sembab tanpa mempedulikan apakah anak – anaknya akan begitu merindukannya ketika hanya tumpukan bajunya di lemari tanpa pernah ada. Dia sudah lelah untuk berusaha memperbaiki keadaan. Kini, yang kulihat hanyalah ayahku yang merokok menahan amarah yang menjadi – jadi tanpa berusaha mencegahnya. Sesungguhnya aku mengerti, dia tak akan pernah rela.
Aku mulai merindukan sosoknya yang pagi – pagi menggedor – gedor kamarku seakan – akan ingin merobohkannya. Aku rindu bau masakannya. Bahkan aku sangat rindu dengan omelannya. Mungkin kemarin aku muak dengan omelannya tapi kenapa aku hanya diam ? disaat dia telepon menanyakan kabarku, kenapa aku hanya berkata ‘aku baik – baik saja bu’ tanpa mengatakan ‘bu, aku merindukanmu, cepatlah pulang’.
Apa setiap orang tua selalu egois ? tanpa ada salah satu yang berusaha meminta maaf ? sejujurnya aku lelah, aku ingin bersama lagi. Aku ingin kursi meja makan penuh, tanpa ada satu kursi yang kosong karena ditinggal pergi. Aku ingin ada yang memasakkan makanan pagi untukku. Aku ingin dia ada disini. Ibu, jika aku menyuruhmu pulang hari ini, apakah kamu akan datang dan mencium lembut keningku ? ibu, aku merindukanmu.

0 comments:
Post a Comment